Mengingat Kebaikan Sesama

Kesyahduan malam Ramadhan begitu terasa. Gemuruh tilawah al-Quran membahana memecah setiap kesunyian lorong-lorong jiwa yang kosong nan hampa. Ayat demi ayat terdengar nyaring dari lisan-lisan penuh cinta. Yang mendamba perjumpaan bahagia dengan Allah Swt.

Shalat tarawih baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Suasana di masjid masih tampak ramai dengan berbagai aktifitas anak-anak SMAIT yang berusaha mendulang pahala dari bulan penuh keutamaan, Ramadhan. Ada tilawah al-Quran yang menyejukkan. Ada obrolan ringan yang menyegarkan. Atau sekedar senda gurau yang tak berlebihan.

Allah Maha berkehendak dan kuasa atas segala yang ada. Secara tiba-tiba, saya teringat pada sosok teladan yang saya kenal beberapa tahun yang silam. Seorang ‘alim berkebangsaan Syiria yang menjadi tempat menimba ilmu saat itu. Pada sebuah kesempatan, ia berpesan dengan sebuah ungkapan yang sangat berkesan.

“Itsnani la tansahuma abada : khathauka akhaka wa ihsanuhu ilaika. Wa itsnani la tadzkurhuma abada, ihsanuka akhaka wa khathauhu ilaika.”

“Dua hal yang jangan pernah engkau lupakan selamanya : Kesalahanmu kepada saudaramu, dan kebaikannya kepada dirimu. Dan dua hal yang jangan pernah kau mengingat-ingatnya : Kebaikanmu kepada saudaramu, dan kesalahannya kepada dirimu.”

Allahu Akbar! Pesan yang luar biasa dan penuh makna. Pesan itu masih terekam kuat di benak, walau raga sudah lama tidak bersua dengan sumbernya.  Semoga keberkahan dan kebaikan senantiasa menyertai setiap sosok-sosok inspiratif yang telah mendidik dan menyemaikan benih-benah kebaikan dalam jiwa.

*******

Sebagai makhluk sosial, keberadaan kita tidak bisa lepas dari ketergantungan pada sesama, walau untuk hal-hal yang sangat sederhana. Terlebih untuk hal-hal besar yang kita sendiri tidak bisa melaksanakannya sendirian. Perlu uluran tangan dan bantuan dari saudara, sahabat, atau teman.

Saatnya berbagai kebutuhan itu menghampiri, dengan mudahnya kita mendaftar orang-orang yang mungkin dapat dihubungi dan diminta bantuannya oleh kita. Tanpa basa-basi yang berlebihan dan mengecewakan, dengan izin Allah mereka pun rela berbagi dengan kita. Baik pikiran, harta, maupun tenaga. Mereka ikhlas tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan manusia atas segala pengorbanan yang dilakukan.

Betapa mulianya jiwa mereka yang telah bersedia membantu kita. Tanpa kita mengetahui sebesar apa pengorbanan mereka untuk mengupayakannya. Kita hanya tahu, bahwa bantuan dan kebaikan darinya telah ada di tangan kita.

Sungguh benar sekali ungkapan ini, “Jangan sekali-kali melupakan kebaikan saudaramu sendiri.” Dengan senantiasa mengingatnya, bukan berarti membebani diri dengan perasaan harus membalas budi. Tetapi lebih pada pengakuan, bahwa saudara kita telah membantu menyelesaikan urusan kita. Sehingga bila saja terjadi kesalahan pada dirinya yang mungkin membuat kita kecewa, tidak lantas kesalahannya itu menghapuskan beragam kebaikannya kepada kita. Justru sebaliknya, kekurangannya tertutupi dengan berbagai kesungguhan dan upaya kebaikan yang telah diberikannya.

Sementara untuk kebaikan yang pernah kita lakukan, tak perlu kita mengingat-ingatnya. Biarkan saja ia berlalu bersama waktu, berjalan meninggalkan kenangan. Bagai buang hajat di toilet, tak mau lagi melihatnya, atau bahkan mengingat-ingatnya. Seperti itulah seharusnya kita bersikap pada kebaikan yang kita lakukan. Cukuplah Allah Swt. sebagai tempat berharap dan menggantungkan segala cita dan impian, atas segala amal shalih dan kebaikan yang telah kita lakukan.

Berbeda dengan kebaikan, berbagai kesalahan yang pernah kita lakukan jangan dilupakan. Agar kita bisa terus evaluasi dan mawas diri. Bahwa diri ini masih sangat jauh dari ideal sebagaimana tuntunan agama. Hati masih sangat kotor dengan lumuran noda dan dosa. Kesadaran seperti ini diharapkan dapat menjadi daya ungkit untuk terus meniti tangga-tangga ampunan Allah Swt. yang luas tanpa batas, terbentang tanpa tersekat waktu dan ruang.

********

Sahabat, mari kita merenung sejenak. Mengingat sosok-sosok mulia yang telah membantu dan menjadi jalan keberhasilan kita. Ada orang tua yang senantiasa berdoa, ada guru-guru yang telah ikhlash berbagi ilmu, ada teman yang menemani perjuangan, ada sesama yang telah dan pernah membantu dengan sukarela. Bagi mereka, kebahagiaan itu ada dalam memberi, bukan menerima. Yakinlah, mereka tidak berharap sesuatu apapun dari kita. Karena tiada guna dan manfaat berharap pada hamba yang tak memiliki apa-apa. Harapan mereka hanya balasan dan kebahagiaan dari sisi-Nya. 

Mari kita doakan mereka, semoga berbagai kebaikan dan kemudahan menyertai mereka, terlebih Ramadhan masih ada bersama kita. Saat berbagai permintaan dan harapan berpeluang besar untuk dikabulkan oleh Pemilik kehidupan, Allah azza wa jalla.



Artikel Terkait

Belum ada Komentar untuk "Mengingat Kebaikan Sesama"

Posting Komentar

Bagaimana menurut anda? Tuliskan komentar anda pada di bawah ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel